Kisah Inspiratif, Jan Koum, dari Pemuda Tukang Sapu Miskin Sebatang Kara, Ditolak Facebook, Hingga Jadi Bos WhatsApp

Pojok Cyber, California – Bagi sebagian orang, getir dan pahitnya hidup dan kehidupan yang pernah dilewati pada masa kecil, justru akan bisa menjadi titik balik untuk kesuksesan dan kehebatan yang menanti di masa mendatang.

Hal ini pulalah yang terjadi dari penggalan kisah nyata inspiratif dari seorang manusia yang bernama Jan Koum, salah satu founder WhatsApp, yang merupakan salah satu aplikasi pesan instant populer di muka bumi.
Koum WhatApps


Jan Koum, memang mengalami masa kecil yang sulit. Dilahirkan dari keluarga Yahudi, Koum besar di daerah pinggiran kota Kiev, Ukraina. Ibu Koum adalah ibu rumah tangga biasa, sedangkan ayahnya merupakan seorang manajer konstruksi.

Saat itu, kondisi perpolitikan di negara Ukraina sedang dalam kondisi yang kurang baik. Atas kondisiyang tidak baik di Ukraina, Koum dan ibunya mengambil keputusan untuk pindah ke Mountain View, Amerika Serikat.

Tetapi, hidup memang tidak mudah sebagaimana membalikkan telapak tangan. Kehidupan di Amerika Serikat yang diangan-angankan lebih baik oleh Koum dan ibu, tidak serta merta segera terwujud.

Faktanya, kepindahan mereka ke negara sebesar dan “sekaya” Amerika pun, tetap belum bisa mengubah mereka dari sulitnya kehidupan.

Ibu Koum, untuk bisa bertahan hidup, memutuskan bekerja sebagai perawat bayi. Dan Koum sendiri, rela menjadi buruh sapu di sebuah toko.

Sang ayah, yang pada awalnya memutuskan untuk ikut pindah bersama istri dan anaknya, akhirnya tidak jadi ikut pindah ke Amerika Serikat sampai kemudian meninggal dunia pada tahun 1997.

Bahkan, karena kehidupan yang ternyata sulit mereka hadapi, untuk sekadar bisa bertahan hidup, ibu dan anak ini, harus makan dari subsidi pemerintah Amerika Serikat.

Tidak hanya soal makanan, dalam hal tempat tinggal, Koum dan ibunya pun, menetap di sebuah apartemen yang dibiayai oleh pemetintah Amerika Serikat. Apartemen itu memiliki dua kamar tidur.

Ujian untuk Koum tidak sampai berhenti menerpa di sana, ibunya di dignosa menderita kanker dan kemudian meinggal pada tahun 2000, sehingga tinggal Koum menjadi sebatang kara.

Pendidikan dan Karier Koum
Di usianya yang menginjak 18 tahun, Koum mulai tertarik dengan dunia pemrograman. Perjalanan pendidikanya tidak terlalu mulus, karena Koum hampir saja tidak lulus dari sebuah SMA di Mission Viejo, California.

Setelah lulus dari SMA tersebut, kemudian Koum melanjutkan pendidikannya di San Jose State University sambil bekerja sebagai penguji keamanan di Ernst & Young.

Koum pernah tergabung dalam sebuah grup peretas w00w00, dan di sana dia bertemu orang-orang yang kemudian mendirikan Napster, Jordan Ritter dan Shawn Fanning.

Jan Koum, pada tahun 1997 dipekerjakan oleh Google sebagai salah satu teknisi infrastruktur. Di sana Koum bertemu dengan Brian Acton, rekan kerjanya saat di Ernst & Young.

Bersama dengan Acton, Koum memutuskan untuk keluar dari Google dan pindah bekerja di Yahoo, bersamaan dengan keputusannya untuk berhenti kuliah.

Kemudian, pada bulan September 2007, Koum dan Acton memutuskan keluar dari Yahoo, yang kemudian memutuskan untuk berlibur sejenak di Amerika Selatan.

Saat itu, Koum dan Action mencoba peruntungan nasib dengan melamar pekerjaan ke Facebook, tetapi sayang, lamaran mereka ditolak.

Cikal Bakal WhatsApp
Inisiatif Koum dalam merintis WhatsApp berawal sewaktu dia membeli sebuah smartphone buatan Apple, iPhone.

Saat itu, Koum berpikir bahwa toko aplikasi Apple App Store yang waktu itu baru berusia 7 bulan, di kemudian hari akan menjadi besar.

Koum kemudian memutuskan untuk mengunjungi temannya, Alex Fishman. Koum dan Alex Fishman berdiskusi selama beberapa jam seputar ide aplikasi Koum di rumah Fishman.

Dari hasil diskusi mereka berdua, diipilihlah nama WhatsApp, mengingat kata tersebut terdengar seperti frasa "what's up".

Langkah selanjutnya, di hari ulang tahun Koum, 24 Februari 2009, dia mendirikan WhatsApp Inc di California.

Kini, aplikasi WhatsApp telah menjadi salah satu aplikasi yang populer di muka bumi ini, dengan penggunanya yang telah mencapai jumlah hampir 800 juta di seluruh dunia.

Melihat jumlah pengguna WhatApps yang mencapai angka tersebut, Google dan Facebook berlomba-lomba untuk membeli aplikasi WhatApps, dan pembeli yang memenangkang “pertarungan” tersebut adalah Facebook.

Sontak saja, Koum dan Acton, menjadi milyader baru di dunia bisnis internet dan teknologi, mengingat harga pembelian WhatApps yang mencapai angka fantastis, yaitu USD19 miliar atau setara dengan Rp266 triliun oleh Facebook.

Walaupun telah dibeli Facebook, Koum masih memegang saham WhatApps sebesar 45 persen sedangkan rekannya, Acton, memadang saham 20 persen.


Sumber: tekno.kompas.com



Related Post:

No comments:

Post a Comment

Mohon maaf apabila ada komentar (baik dari facebook, google plus, dll) yang belum dan bahkan tidak dibalas oleh admin.....

Sekali lagi mohon maaf yang sebesar-besarnya